Galih Nugroho, Ketua Tim Teknologi Pangan IPB

Pertengahan 2008, Institut Pertanian Bogor (IPB) merilis temuannya di bidang pangan, yaitu mi jagung. Teknologinya dikembangkan oleh Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB dan peneliti di Southeast Asian Food Science and Technology (Seafast) Center, melalui program Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) Diversifikasi Pangan Pokok dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi.
Setahun setelahnya, 10 Juni 2009, mi jagung mendapatkan pengakuan dunia. Lima mahasiswa IPB yang mengembangkan mi jagung instan, mendapat juara III dalam kompetisi Developing Solutions for Developing Countries (DSDC) di Amerika Serikat (AS). Mereka adalah Galih Nugroho, Kamalita Pertiwi, Ari Try Purbayanto, Chaterine Haryasyah, dan Riza Aris Apriady.

Galih Nugroho, sang ketua tim mengungkapkan, mi jagung yang mereka kembangkan bermanfaat untuk mengurangi angka kematian ibu hamil. Pengembangan mi jagung, menurutnya, juga akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor tepung terigu, bahan dasar mi instan saat ini. Berikut adalah wawancara wartawan Republika , Fitria Andayani, dengan Galih Nugroho.

Mengapa terpikir untuk mengembangkan mi jagung?
Awalnya, ketika saya dan empat orang teman lainnya berniat mengikuti kompetisi DSDC. Kami ingin membuat penelitian yang nantinya berguna untuk menyelesaikan masalah kesehatan yang terdapat di negara berkembang, khususnya Asia Tenggara. Setelah dipelajari, kami menemukan fakta bahwa salah satu masalah kesehatan yang menghantui negara berkembang adalah kematian ibu hamil. Sebanyak 22 persen penyebab kematian ibu hamil adalah kekurangan zat gizi mikro.

Artinya, kebanyakan ibu hamil di negara berkembang tidak memperoleh gizi yang cukup pada masa kehamilannya. Hal ini disebabkan oleh perilaku makan yang salah. Mereka seharusnya memakan makanan yang memiliki gizi bagus dan mendukung kebutuhan vitaminnya.

Namun, makanan sarat gizi seringkali bukanlah masakan enak. Di Indonesia, terdapat makanan favorit, yaitu mi instan. Lalu, kami terpikir, mengapa tidak mengembangkan mi jagung yang sudah diteliti oleh IPB sejak tahun lalu itu. Bila ditambahkan zat gizi mikro yang banyak, mi jagung layak dikonsumsi oleh ibu hamil.

Pengembangan seperti apa yang dilakukan pada mi jagung tersebut?
Mi jagung yang kami buat ditambahkan banyak mamfaat bagi kesehatan ibu hamil. Salah satunya adalah terkandungnya lebih banyak zat gizi mikro, seperti protein dan zat besi. Mi jagung yang sebelumnya ada dicampur dengan terigu. Namun, bila mi dibuat dengan bahan baku 100 persen jagung, kandungan provitamin A-nya menjadi lebih tinggi.

Bagaimana cara membuat mi jagung?
Jagung dipipil dan dibuang kulit arinya terlebih dahulu. Kemudian, ditumbuk dan dijadikan tepung. Setelah itu, tepung jagung (25 persen) dan tepung terigu (75 persen) diformulasi dengan air, garam, soda abu dan guar gum, kemudian diaduk selama 10 menit. Ditambahkan pula, telur untuk memenuhi protein dalam mi. Lalu, dikukus agar mi tergelatinisasi dan mudah dibentuk.

Adonan mi itu kemudian dibentuk lembaran adonan dengan proses penggilingan 10 hingga 12 kali. Setelah itu, barulah dilakukan pembentukan untaian mi. Untaian mi dikukus dan dipotong-potong sehingga menjadi produk mi basah. Untuk menjadikannya produk kering, mi basah dioven dengan suhu 60 derajat celcius selama 80 menit.

Apa keunggulannya dibandingkan mi terigu?
Cita rasa yang dimiliki mi jagung tidak kalah. Akibat terbuat dari jagung, rasa jagungnya sangat kentara, yang membuatnya memiliki cita rasa yang khas. Selain itu, mi jagung tidak butuh pewarna, seperti mi terigu. Warna kuning pada jagung membuat mi otomatis berwarna kuning.

Apalagi manfaat pengembangan mi jagung?
Bila mi jagung dikembangkan dan dipasarkan secara serius, Indonesia bisa mengurangi ketergantungannya terhadap terigu. Saat ini, kita masih mengimpor terigu dari negara-negara subtropis. Setidaknya 5 juta ton terigu kita impor setiap tahunnya. Bila kita bisa menggalakkan pembuatan dan pengonsumsian mi jagung, setidaknya kita bisa mereduksi impor terigu hingga 10 persen.

Bagaimana potensi pasar mi jagung?
Saat ini produksi mi jagung masih dalam skala laboratorium. Untuk skala industri, mungkin masih perlu beberapa penyesuaian. Ada beberapa hal yang harus dikembangkan lebih lanjut. Mi jagung masih gampang patah dari pada mi instan biasa. Selain itu, zat gizi mikronya harus dioptimalisasikan agar mi jagung menjadi sangat kaya gizi.

Selain itu, karena masih menggunakan alat pengering biasa, warna setiap mi jadi tidak seragam. Mi jagung sangat potensial untuk dikembangkan secara massal. Sudah banyak perusahaan yang menyatakan ketertarikannya memproduksi mi jagung ini secara besar-besaran. Namun, yang cukup serius dan sudah melakukan uji coba adalah sebuah perusahaan di Jawa Timur.

Bila diproduksi secara massal, harga jual mi jagung bisa ditekan. Sejauh ini, mengacu pada analisis ekonomi yang kami lakukan untuk mi jagung skala laboratorium, 100 gram mi bisa dijual dengan harga Rp 2.500. Bila diproduksi massal, harganya akan jauh lebih murah daripada mi instan terigu di pasaran. Lagi pula, harga jual tepung jagung lebih murah ketimbang tepung terigu.

Ketika kompetisi di California, para juri memang berpendapat bahwa produk ini lemah dalam visibilitas ekonominya. Menurut mereka, mi jagung tidak dapat dijadikan komoditas para penggerak industri rumahan. Oleh karena itu, model produksi yang cocok adalah dalam skala besar.

Apa yang diharapkan terhadap penelitian mi jagung ini?
Setidaknya kalaupun belum bisa diproduksi secara massal, kita bisa produksi dulu secara terbatas. Setidaknya masyarakat tahu dulu. Baru nanti setelah kita lihat potensi bisnisnya kita benar-benar lempar ke pasaran.

Saat ini, bahan baku jagung belum tercukupi benar. Jagung juga digunakan sebagai pakan ternak. Tapi, pelan-pelan kita bisa mencukupinya. Jagung kan buah yang gampang tumbuh di Indonesia. Kita harus pelan-pelan, jika mau mengembangkan produk lokal kita.

Tapi, IPB menargetkan bisa memproduksi mi jagung secara massal tahun ini. Kami juga tidak berencana mematenkan mi jagung ini. Biarlah penelitian ini menjadi milik masyarakat. Jadi, bila mereka ingin produksi sendiri, tidak ada halangan.

Bagaimana dengan peran pemerintah daerah?
Teknologi mi jagung sangat mendukung program diversifikasi pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap terigu di Provinsi Jawa Barat, khususnya. Sayangnya, mereka lambat menindaklanjuti penemuan mi jagung ini. Kami akhirnya bekerja sama dengan Provinsi Jawa Timur (Jatim) untuk mengembangkan industri mi jagung di daerah Takalar. Sebab, IPB tidak mungkin bekerja sendirian untuk menindaklanjuti hasil riset tersebut.

Demi menyukseskan produksi mi jagung ini, pemerintah bisa melakukan beberapa hal. Pemerintah bisa mengarahkan para petani jagung untuk menjual jagungnya pada para pembuat mi jagung dengan harga yang sesuai. Harus ada penetapan harga yang cocok sehingga tidak terjadi konflik antara petani dan pembuat mi jagung.Selain itu, pemerintah bisa memberikan pelatihan kepada para petani jagung untuk memproduksi tepung jagung. Hal ini dapat meningkatkan taraf hidup mereka juga.

Dengan membuat tepung jagung, tentu mereka bisa meningkatkan harga jual jagung mereka. Pemerintah juga dapat menyosialisasikan penggunaan mi jagung dalam skala kecil, seperti kepada para penjual mi bakso. Mereka bisa diminta untuk menyubtitusi mi terigu yang bisa dipakainya dengan mi jagung.

Apa rencana Anda ke depan?
Setelah kuliah, saya ingin mengembangkan mi jagung. Memproduksinya secara massal. Saya bisa mengembangkan dan memasarkannya sebagai makanan siap saji. Selain itu, menciptakan mi jagung dengan banyak rasa untuk semua usia.

Sumber : nurulfikri.sch.id