WATES, JUMAT – Budidaya tanaman bunga Rosella (Hibiscus Sahdariffa L) kini mulai diminati petani lahan pasir di pesisir pantai selatan Kulon Progo. Selain perawatannya yang relatif mudah, harga jual kelopak bunga berwarna merah ini pun terus menanjak seiring tingginya permintaan pasar.

Rintisan budidaya Rosella sudah bisa dilihat di beberapa lahan pasir di sepanjang Pantai Trisik, Bugel, dan Glagah. Meskipun demikian, tanaman ini belum diusahakan secara monokultur, melainkan hanya sebagai selingan bagi tanaman pertanian yang lain, seperti cabai, jagung, dan buah naga.

Menurut Aris Muko (45) warga Dusun I Bugel, Panjatan, usaha penanaman Rosella saat ini sifatnya masih coba-coba. Belum ada petani yang sungguh-sungguh memelihara Rosella karena pada awalnya mereka khawatir soal pemasaran.

“Ternyata setelah tanaman berbunga dan siap panen, justru banyak pembeli yang datang sendiri ke petani. Harga jual yang ditawarkan pun cukup tinggi, sehingga tahun depan kami akan lebih serius menanam Rosella,” ujar Aris yang hanya memiliki 100-an batang tanaman Rosella, Jumat (11/4).

Tiap kilogram kelopak bunga Rosella kering dibeli dari petani seharga Rp 100.000-Rp 140.000, tergantung mutu dan kualitasnya. Adapun penilaian kualitas ini masih sepenuhnya berada di tangan pembeli. Petani umumnya tidak tahu tentang standar kualitas Rosella kering yang diinginkan pasar.

Memelihara tanaman Rosella, diakui Bejo (56), petani di Pantai Bugel, cukup mudah. Tanaman Rosella mudah tumbuh di lahan pasir tanpa harus disiram atau diberi pupuk secara intensif. Menurut Bejo, tanaman ini hanya akan menghasilkan kelopak bunga di musim kemarau.

Dari sekitar 200-an batang Rosella, Bejo bisa memanen sekitar satu kilogram kelopak bunga basah per hari. Untuk dapat menghasilkan satu kilogram kelopak bunga kering, maka dibutuhkan setidaknya 8-9 kilogram kelopak bunga basah.

“Dua minggu sekali ada pembeli yang datang langsung ke tempat saya. Hasil penjualan Rosella cukup lumayan sebagai tambahan penghasilan dan membiayai perawatan tanaman lain,” kata Bejo yang juga bertananam cabai ini.

Diakui Paulus Tribrata, pemilik kebun agrowisata “Kusumo Wanadri” di Pantai Glagah, Temon, tingginya harga jual memang memicu animo petani lahan pasir untuk mulai menanam Rosella. Kebun agrowisata Rosella dan buah naga seluas 3,5 hektare milik Paulus kerap dijadikan lokasi belajar petani.

Paulus pun berharap agar pemerintah daerah, dapat memberi perhatian lebih terhadap budidaya Rosella. “Ini merupakan komoditas pertanian alternatif yang amat baik untuk diusahakan secara serius dibanding tanaman cabai atau semangka karena permintaan pasar cukup tinggi,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kulon Progo, Agus Langgeng Basuki mengatakan pihaknya sudah mengimbau petani untuk menanam Rosella sejak tahun 2005. Hanya saja, saat itu petani belum tertarik karena harga komoditas cabai masih cukup baik. Meskipun demikian, ia mengatakan siap membantu petani untuk menggiatkan budi daya Rosella.

Dalam dunia kesehatan dan pengobatan dengan bahan baku tanaman herbal, Rosella dikenal memiliki khasiat yang cukup baik untuk mengurangi kekentalan darah sehingga mampu mengobati penyakit degeneratif seperti hipertensi, stroke, kolesterol, dan sakit jantung. Menurut Paulus, khasiat ini terutama disebabkan oleh kandungan kimia asam organik, polisakarida, flavonoid, dan aneka jenis vitamin dengan konsentrasi tinggi pada kelopak bunga Rosella.